Sejarah dan Asal-Usul Nama Dusun di Kalurahan Sabdodadi
Pada masa pemerintahan Keraton Mataram di bawah Raja Mataram, Panembahan Senopati, terjadi sejarah yang sangat penting bagi Kalurahan Sabdodadi dan sekitarnya. Pada saat itu ada wilayah (tanah perdikan) yang dipimpin oleh Ki Ageng Mangir. Karena tanah perdikan tidak ada atau diminta pajak oleh Mataram, Ki Ageng Mangir berkewajiban datang sowan ke Mataram. Namun sudah beberapa tahun Ki Ageng Mangir tidak kunjung sowan ke Mataram. Oleh karena itu Demang Panatus dan Demang Kaleco diutus untuk berkujung ke Mangir dengan membawa prajurit. Kunjungan ini untuk menanyakan (ngaruhke/mencari tahu) kenapa sudah lama tidak berkunjung sowan ke Mataram. Dalam perjalanan prajurit Mataram ke arah Timur Laut (ngalor ngetan) sampailah mereka di Kampung Tegal Karang. Ternyata di Kampung Tegal Karang ada mata air (belik) yan sangat jernih dan bening airnya. Para Prajurit Mataram yang terluka kemudian mandi dan membersihkan diri di belik tersebut. Karena banyaknya Prajurit Mataram yang terluka dan mandi di belik tersebut, air belik yang tadinya jernih dan bening menjadi kotor dan berbau anyir (banger). Maka tempat tersebut menjadi Kampung Bangeran dari kata banger.
Selain untuk kebutuhan rumah tangga, air belik dialirkan untuk persawahan di sebelah selatan Kampung Bangeran. Dikarenakan tanah persawahan sangat subur banyak binatang air berkembang biak antara lain keong maka Dusun disebelah selatan Bangeran dinamakan Keyongan. Ki Demang Panatus madukuh (bertempat tinggal) di timur jalan (yang sekarang adalah Jalan Parangtritis). Tempat tinggal Ki Demang Panatus dinamakan Dusun Dukuh dari kata madukuh sedangkan tempat tinggal Ki Demang Kaleco dinamakan Dusun Neco dari kata Kaleco. Untuk menjaga dan meningkatkan kewaspadaan, Demang Panatus dan Demang Kaleco mengumpulkan para pemuda dan pemudi untuk dilatih ilmu kanuragan (bela diri), strategi perang, dan lain-lain. Tempat latihan dan memilih prajurit (dibanding-banding) kemudian selanjutnya dinamakan Dusun Manding. Setelah pelatihan kanuragan selesai prajurit masih dipilih/seleksi lagi. Prajurit baik bertempat di Manding Gading, Prajurit hasil pithatan (seleksi) bertempat di Manding Pithatan, dan Prajurit hasil pithatan (seleksi) masih di serut (dikurangi) bertempat di Manding Serut.
Setelah pelatihan kanuragan diadakan syukuran makan bersama (kembul bujono) dan dipentaskan kesenian beksan (tari) maka Dusun yang digunakan untuk syukuran tersebut dinamakan Kadibeso. Dari beberapa penari ternyata ada yang sangat baik menari dan merupakan kembang dusun sehingga di Dusun Kadibeso ada Kampung Kembang. Cara menarinya sangat halus seperti sutro maka terbentuklah Kampung lain yaitu Sutran. Acara masak-masak menggunakan bahan bakar kayu dilaksanakan di sebelah Utara Kampung Kadibeso. Karena bahan bakarnya kayu maka terbentuklah asap (beluk) sehingga daerah tersebut dinamakan Kampung Belukan. Ki Demang Panatus dimakamkan di Sasonoloyo Gowokan Dukuh sedangkan Ki Demang Kaleco di makamkan di Pedukuhan Neco.
Belik yang berada di Kampung Bangeran di bernama Belik Patirtan Kamulyan, air di belik ini dipercaya dapat menyembuhkan penyakit dan membuat awet muda. Bukan hanya untuk menyembuhkan penyakit, namun belik ini juga sebagai sumber air jernih yang dapat digunakan untuk keperluan rumah tangga dan pertanian. Pengunjung Belik Patirtan Kamulyan Bangeran bukan hanya dari Bantul tetapi juga dari luar Kabupaten Bantul yang menjadikan belik ini sebagai tempat Wisata Religi. Setelah zaman Kemerdekaan Indonesia, Pemerintah Kabupaten Bantul berencana untuk menggabungkan Kalurahan Keyongan dengan Kalurahan Trirenggo, namun Kalurahan Keyongan tidak bersedia dikarenakan telah memiliki rencana untuk mendirikan Kalurahan sendiri. Pemerintah Kabupaten Bantul menyetujui Kalurahan Keyongan untuk mendirikan Kalurahan sendiri dengan syarat dapat melengkapi jabatan/pamong yang kosong dengan cepat ternyata kekosongan perangkat/ pamong dapat diisi secara cepat jika dalam bahasa jawa seperti disabdo kemudian dadi Maka Kalurahan dinamakan Kalurahan Sabdodadi.
Hari jadi Kalurahan Sabdodadi ditetapkan pada
Hari : Kamis Pahing
Tanggal : 9 Agustus 1923
Tanggal Jawa : Syawal 1853
Wuku : Mondosiyo
Tidak ada gambar tersedia.
Komentar:
Belum ada komentar.
Kirim Komentar
Komentar baru terbit setelah disetujui Admin